Jari-jariku letih
dan kau terus main-main hujan, sampai larut malam
Cuaca pun kurasa telah lama bosan
pada ukuran fahrenheit yang bimbang
kadang angin
segala ukuran
datang pergi
Penanda dan pertanda, sayang
hanya berlaku dalam ilmu bahasa
bukan pada cuaca
setidaknya hari ini
...malam ini, maksudku
Nyala lilin juga letih
dan wajahmu selalu begitu: kuyu, sephia, menghiba:
"Ayo, ninabobokan aku," pintamu
"Sebab sebelum terlelap,
aku hanyalah sepotong boneka,
terasing diantara tumpukan buku
dan mainan anak lelaki"
2.08
Monday, August 2, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
"Sebab sebelum terlelap,
ReplyDeleteaku hanyalah sepotong boneka,
terasing diantara tumpukan buku
dan mainan anak lelaki"
Guh... saya harus istkhoroh naNpa'nya sebeLLum menaPser, hihihi...
ngalotor sudah. mari' segera ditafsir....
ReplyDeleteAghu'! Kok cePPad....
ReplyDelete@Kak Faizi: itu kurang peRRinya: aku hanya sepotong boneka peri/terasing di antara tumpukan buku/ dan mainan anak lelaki. Tapi dak usah di edit saja ya?
ReplyDeleteLha... ini cumlaude ini, hihihi...
ReplyDeletegellap ebblog mu, Mak
ReplyDeleteDak enak ya Kak? mO diwarnai apa? Mo diwarnai BIRU BOTOL apa "otanah koceng", biar kayak titos? Hihihihi
ReplyDelete