Sunday, August 15, 2010

Rasa Budaya



"Terus, bagaimana kalau kamu jadi Ahmad Dhani?"

"Ke mana-mana aku akan bawa senapan."

"Haha.... Senapan? Seperti Elvis Presley gitu?"

"Nggak, lah. Tak separah dia. Cukup senapan angin."

"Untuk?"

"Kalau ada yang ngejar-ngejar, aku akan tanya "dari mana"?"

"Terus?"

"Kalau dia bilang "Cek en Ricek", "Kiss" atau apalah yang seperti itu, aku akan langsung dor!"

"Haha.... Seperti Maradona!"

"Ini bukan soal seperti-sepertian! Memang harus begitu!"

"Maksudmu?"

"Artis kita dulu betul-betul seniman, punya totalitas, punya kualitas selebritas yang berbobot. Mereka bekerja untuk seni, diburu para peminat seni dari semua kalangan, termasuk media. Mereka berkumpul dengan orang-orang besar, orang-orang yang punya taste pada seni dan kepentingan."

"Lalu...?"

"Bukan seperti artis sekarang yang terlalu ribut dengan masalah rambut, bedak, kuku!"

"Ha ha ha...."

"Lalu memburu media dan wartawan picisan dengan cara pura-pura bikin sensasi, menjadi fans berat infotainment hanya untuk bisa melihat gambarnya sendiri yang ditayangkan televisi, tampil ber"gue-gue" puluhan kali dalam sehari tapi hanya bisa buat beberapa lagu murahan dalam entah berapa tahun!"

"Ha ha ha ha...."

"Lho, kamu kok malah ber-ha-ha-ha? Aku kayak orang ceramah ya?"

"Ha ha ha...."

"Lho???"

"Eh, tapi kamu mendukung borjuisme, dong?"

"Dalam beberapa hal, Boy! Artis kita dulu bekerja dan berbicara dalam kapasitasnya sebagai seorang seniman. Sedangkan para apresian, ataupun boleh kau sebut maniak-gila seni itu, dari kaum borjuis, menghargai sisi seni itu lebih baik dari pada kebanyakan masyarakat yang mabuk dengan hal-hal rendahan!"

"Apa itu "rendah"? Kau merendahkan masyarakat kita sendiri!"

"Ya! Masyarakat kita memang masyarakat rendahan yang suka ngerumpiin selingkuhan para artis dan lalu bersolek meniru mereka. Rendah bukan soal kaya-miskin, bukan soal harta, Boy! Tapi prestise rasa budaya kita! Kau mengerti? R-A-S-A B-U-D-A-Y-A-! Kita tak perlu harus kaya raya hanya untuk mengapresiasi kesenian yang bermutu!"

"He he he.... Eh, tapi apa hubungannya rasa budaya dengan Ahmad Dhani? Dia kan artis sekarang juga?"

"Ya. Ahmad Dhani kan, ya... punya totalitas lah. Tapi, sayangnya dia itu...,"

"Kenapa dia itu?"

"Innalillah! Boy, Boooyyy! Betul, kan?! Betul, kan?! Lihat! lihat!!!"

"Apa, apa?"

"Innalillah! Lihat itu!!! Dhani main di INBOX!!!"

DORRR! Terdengar ledakan, entah apa. Mungkin senapan angin. Tapi tak terdengar pecahan kaca.

Gambar: Iwan Fals

Wednesday, August 11, 2010

Ilmuwan Jujur

"Sampaikanlah ilmu dengan jujur.
Seorang ilmuwan yang baik adalah yang mampu menyampaikan ilmu tanpa harus terlebih dahulu membuat bodoh.
"


____
Seorang ilmuwan yang baik adalah yang mampu menyampaikan ilmu (pada seseorang) tanpa (harus) terlebih dahulu membuat (orang itu) bodoh.

Sunday, August 8, 2010

Label

Kita akan dikirikan. Gerak kita akan diberi marjin, batasan, kurungan, penjara. Kita akan ditempeli label, yaitu sebuah definisi yang otoritatif, bahwa kita pemberontak, kita anti-kemapanan, kita kiri, kita ini, kita itu, kita "LAIN", kita harus dibasmi.

Negara-negara besar itu menggaung-gaungkan demokrasi. Apa sih tuntutan demokrasi? Tuntutan demokrasi yang terbesar adalah kebebasan. Namun saat kita menuntut kebebasan, kita akan dipinggirkan. Kita akan dipinggirkan oleh negara-negara besar yang tadinya menggaung-gaungkan demokrasi itu. Kita akan disekap, dibekap, dikurung, dinistakan, dibunuh. Karena kebebasan kita tidak sesuai label. Label mereka.

Kita tidak boleh bersuara yang berbeda. Demokrasi, demokratisasi, sudah punya pengertiannya sendiri. Yaitu pengertian yang dibuat oleh negara-negara besar itu. Demokrasi sudah dibebani oleh pengertian yang sangat definitif dan absolut. Demokrasi bukan soal kebebasan: tapi kepastian absolut tentang power: kekuatan: kapital.

Kita hidup dalam tuntutan-tuntan label. Kita dilabeli. Dan tanpa label, kita tak dapat hidup.

Pendidikan kita dilabeli persamaan, akreditasi, internasionalisasi, sertifikasi, "ISO", piagam-piagam otoritatif. Makin pandai kita membuat kebebasan, makin kejam kita menekankan kebebasan kita hingga orang-orang berpelantingan karena gerak bebas kita. Orang-orang terlempar. Orang-orang terpinggirkan.

Betapa menyedihkan dunia yang bersilat lidah bukan demi kebenaran, tapi demi kebohongan yang disepakati. Apa katamu? Kebohongan yang disepakati? Ya, kebohongan yang disepakati; itulah hidup kita. Label.

Monday, August 2, 2010

Insomnis

Jari-jariku letih
dan kau terus main-main hujan, sampai larut malam

Cuaca pun kurasa telah lama bosan
pada ukuran fahrenheit yang bimbang
kadang angin
segala ukuran
datang pergi

Penanda dan pertanda, sayang
hanya berlaku dalam ilmu bahasa
bukan pada cuaca
setidaknya hari ini
...malam ini, maksudku

Nyala lilin juga letih
dan wajahmu selalu begitu: kuyu, sephia, menghiba:
"Ayo, ninabobokan aku," pintamu
"Sebab sebelum terlelap,
aku hanyalah sepotong boneka,
terasing diantara tumpukan buku
dan mainan anak lelaki"

2.08