Friday, November 20, 2009

At The Bookstore


"Wah, banyak sekali kamu beli buku, memangnya kapan kamu bisa baca semuanya?"

"Apalagi kalau aku gak beli, terus kapan bisa bacanya?"

Sunday, November 15, 2009

Zaman Anak-anakku

...
Akan seperti zaman-apakah saat anak-anakku lahir nanti?

Akankah zaman mereka memiliki para musisi besar, para pemikir besar, para ulama besar? Akankah anak-anakku di-asuh oleh para sastrawan total yang berteriak tentang moral, para filsuf orisinil yang menyadarkan kedangkalan pemikiran, para ilmuwan tulen yang mengisi jiwa-jiwa-saintifisme-kosong zaman mereka? Akankah zaman mereka memiliki buku-buku yang membakar jiwa mereka; karya-karya seni yang luhung?

Zaman kita terlalu bingung untuk memikirkan kelahiran suatu prototipe manusia yang utuh.

Tuesday, November 10, 2009

Pengakuan



"Banyak orang susah untuk mengaku telah jatuh cinta. Apalagi untuk mengaku telah berkhianat!"


_______________________________________________________
Image: Eyes of Hamna Abdullah, a student of Hafsa Madrasa, during a talk with journalists on the demolition of seven mosques by the Captial Development Authority (CDA) - 2007, Pakistan. Photography by: T. Mughal, modified by Pangapora

Thursday, November 5, 2009

Politisi Kita

Dulu kita hidup dalam suasana politik yang tidak demokratis dan kotor, namun masih punya tokoh-tokoh politik yang bersih.

Kini kita hidup dalam suasana politik yang lebih demokratis dan bersih, tapi hampir tak punya seorangpun tokoh politik yang bersih!

Demokrasi Normatik

Demokrasi mustahil menjadi sebuah nilai. Ia tentu sudah mengalami takhshish makna, bukan lagi demokrasi dalam pengertiannya yang leksikal. Demokrasi telah dikhususkan pada suatu model demokrasi normatif tertentu--; yaitu demokrasi yang Prancis; demokrasi yang Amerika; yang Barat.

Nilai-nilai yang tersirat secara leksikal dalam terma demokrasi sudah dikutuk untuk mustahil diwujudkan; masyarakat yang berbicara bebas, yang berekpresi bebas, tak mungkin tercapai. Sebab kebebasan itu berada dalam bingkai ketidakberagamaan. Maka apapun simbol beragama, meski sudah menjadi bagian utuh suatu masyarakat, seperti menghadiri misa di gereja, menyimak khutbah-khutbah di masjid, tetap saja dicap "berbahaya".

Demokrasi di sini mustahil terwujud, karena mereka tak akan pernah menerima --GAMPANGNYA-- siswa berjilbab di sekolah-sekolah mereka!

(Januari 2009)